tau maulana?
Setiap mesjid pasti ada marbot (pengurus-red) nya. Kalo Maulana itu pengurus semua mesjid di sekitar UGM. ![]()
Aku menganggap Maulana adalah pribadi yang tegas, prinsipil, agak dingin, tidak takut apapun. Aku merasa melalui tatapan matanya yang misterius, dia bisa menebak pikiran orang lain. Bukan artinya dia dukun atau yang sejenisnya. Tapi dia seperti orang yang meiliki aura untuk melakukan itu.
Awal Pertemuan
Semester pertama aku kuliah di UGM, aku bertemu Maulana di Mesjid Pogung Dalangan (MPD). Saat itu, aku yang baru keluar dari mesjid dihampiri, ngobrol sebentar. Dengan tatapan misteriusnya (seolah-olah ingin menebak kepribadian seseorang) dia menatapku dan berpesan: Jadi anak baik ya, rajin-rajin belajar. Setelah itu, aku sering ketemu dengannya tapi tidak ngobrol panjang.
Tadi malam (Selasa malam) aku bertemu lagi dengan Maulana di masjid mardliyah yang letaknya di samping RS Sardjito. Sebelum bertemu Maulana aku bertemu Iim anak teknik temanku di Bulaksumur Pos. Kata Iim motornya dipinjam oleh Maulana menuju Masjid Kampus. Karena ada waktu, aku bertanya-tanya sedikit kepada Iim tentang Maulana.
Aku: Im, Maulana udah lulus belum yach… dia jurusannya apa?
Iim: enggak, dia bukan anak UGM. Enggak kuliah. Dia kan emang mobile dari satu mesjid ke mesjid yang laen.
Aku: O… ngerti aku
Membonceng Maulana
Karena hujan deras, aku meninggalkan Mesjid Mardliyah jam 1/2 9 malam. Itupun aku tidak bisa langsung pulang. Di pintu keluar masjid aku bertemu Maulana. Dia ingin aku mengantarnya ke Maskam. Aku setuju saja. Toh tidak terlalu jauh. Dia membawa 2 galon Aqua dantas ransel berisi buku.
Aku membonceng dia, setelah sampai di perempatan (kalo malam pertigaan) di depan Jogja Media Net. Trus dia menyuruh aku memutar balik, karena ada yang ketinggalan. Aku balik ke mesjid Mardliyah lagi. Di sana, karena tas ranselnya agak berat, dia nitip tas ranselnya kepadaku tetapi ditaruh di belakangku. beolum sempat dia sampai pintu mesjid, tas ramsel tumbang ke tanah yang becek oleh hujan deras. Bukunya basah. Setelah bukunya dikutip, kami melanjutkan perjalanan menuju Mesjid Kampus. Di dalam perjalanan dia lebih sering bershalawat atau mengaji. Karena aku bawa motor dalam keadaan yang agak slow, kami masih semapat sedikti ngobrol: Dia menanyakan nama dan asalku.
Setelah sampai di maskam, tatapan misteriusnya kembali menatapku. Dia akhirnya berpesan kepadaku: jangan lupa shlat tahajud dan sholat shubuh di mesjid ya. Aku tidak tau apakah dia bisa membaca pikiran orang atau tidak… tapi, aku menyangka dia bisa menebak pikiran seseorang melalui gerak-geriknya.
Haha…Makanya ham rajin2 shalat subuh di masjid.
iya…. itu dia yg gw bingung.
dia kok bisa tau gitu loh….
hebat emang tuh orang
tapi susah ya…
dingin banget e…
wah pengalaman lo tuh bener-bener dahsyat ham….
semoga lo banyak mendapat pengalaman yang lebih dahsyat lagi dan bisa mengambil ibrohnya……
kakak gue juga kuliah di ugm, kenal gak ya sama maulana???
semoga Allaah memberkahi Maulana…